Cinextur

Belajar Online

Mengenal Pulau Wisata Curiak
Wisata

Mengenal Pulau Wisata Curiak

Cinextur – Sebagai negara maritim, Indonesia terdiri dari beberapa pulau. Sebanyak 17.504 pulau tersebar di dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Wajar jika banyak pulau yang tidak sepopuler Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi atau Papua. Pulau Curiak di Kalimantan Selatan adalah salah satunya. Apalagi masih populer: pulau yang terletak di Delta Sungai Barito, di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala ini bahkan tidak ada dalam peta karena luasnya hanya 2,7 hektar. Namun Pulau Curiak secara bertahap berhasil menarik perhatian wisatawan dengan minat khusus. Dimulai dengan didirikannya Pos Penelitian Bekantan Indonesia (SBI) oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia pada Juni 2018. Sejak itu, luas pulau kecil ini bertambah menjadi 3,9 hektar dengan penanaman pohon bakau rambai.

Kehadiran SBI telah mengungkap potensi Pulau Curiak

Peluncuran Antara, Pendiri SBI, Amalia Rezeki mengatakan, pembentukan SBI dan ekosistem lahan basah di Pulau Curiak dibantu oleh guru besar dari New Castle University, Australia, Tim Roberts bersama dengan rektor Universitas Lambung Mangkurat. , prof. Dr. Sutarto Hadi. Di sekitar area Pulau Curiak, sebuah pusat penelitian didedikasikan untuk profesor bernama Camp Tim Roberts yang didedikasikan. Meski keberadaan SBI mungkin merupakan titik balik Pulau Curiak, namun pulau yang berjarak 18 km dari pusat Kota Banjarmasin ini memang memiliki pesona dan potensi wisata tersendiri.

Amalia menuturkan, Pulau Curiak tidak hanya menjadi rumah bagi monyet, tetapi juga surga bagi wisatawan yang gemar mengamati burung. Selama musim migrasi, ratusan burung seperti bangau, burung laut dan unggas air lainnya akan berkumpul di sekitar pantai Pulau Curiak. Pulau ini juga merupakan rumah bagi elang springbok yang dilindungi dan dikenal sebagai predator terbaik di daerah tersebut. Untuk mengamati burung dan satwa liar lainnya di Pulau Curiak, wisatawan dapat menggunakan jasa perahu motor atau kelotok kecil milik Kelompok Nelayan Peduli Lingkungan (KNPL) Anjir Muara, dengan tarif berkisar antara Rp50 hingga Rp100.000, tergantung wilayah jelajah.

Selain dari Balai Penelitian Bekantan Indonesia, Pulau Curiak juga merupakan kawasan Mangrove Rambai Center

Dengan kelotok, wisatawan bisa menyusuri sungai-sungai kecil di sekitar pulau, atau memasuki hutan bakau rambai yang indah. Kawasan Pulau Curiak juga digunakan sebagai kawasan Mangrove Rambai Center yang menyediakan persemaian pohon mangga, rumah bakau dan arboretum mangrove. ‘Ini yang pertama dan mungkin satu-satunya di dunia. “Di tempat ini mahasiswa dan peneliti bisa lebih mengenal mangrove dari perbaikan vegetasi yang didominasi pohon rambai,” kata Amara, dikutip Antara. Selain itu wisatawan juga bisa berdonasi sekaligus menanam pohon bakau rambai. Untuk setiap pohon, Amalia mengatakan sumbangan hanya Rp 50.000 dibebankan kepada wisatawan. Hutan mangrove di Rambai selain memperbesar wilayah Pulau Curiak juga memberikan kontribusi terhadap potensi ekonomi nelayan tradisional. Pasalnya, hutan mangrove dikenal sebagai kawasan potensial perikanan air tawar. Nelayan tradisional yang mengais rejeki di Sungai Barito akan terbantu dengan ini. Biasanya nelayan tradisional akan melaut pada malam hari. Hasil tangkapan malam akan dijual pagi hari. Nelayan di sekitar Pulau Curiak biasanya berkumpul tepat di depan Pulau Curiak untuk melakukan transaksi dalam formasi seperti pasar terapung, mulai dari embun yang masih menyelimuti hingga matahari terbit tinggi dari ufuk timur.

Akses menuju Pulau Curiak bisa melalui jalur darat atau sungai

Untuk mencapai Pulau Curiak, wisatawan dapat menempuh jalur darat melalui Jalan Trans Kalimantan menuju Jembatan Barito, dengan jarak tempuh sekitar 30 menit. Perjalanan harus dilanjutkan menggunakan kelotok selama 10 menit dengan berhenti di Camp Roberts Team. Jika ingin berwisata dengan sensasi berbeda, wisatawan bisa memilih menyusuri sungai. Cara ini bisa ditempuh dari kawasan Siring Taman Maskot Bekantan Banjarmasin dengan menggunakan kelotok dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Dengan menyusuri sungai, wisatawan akan menemukan pesona kearifan masyarakat mulai dari Sungai Martapura, Sungai Andai, Sungai Alalak dan Sungai Barito.

Biaya sewa kelotok jika ingin mencapai Pulau Kuriak lewat sungai berkisar Rp 450 hingga Rp 600 ribu, tergantung rute dan jumlah penumpang. Atau wisatawan bisa mengikuti paket wisata Bekantan Ecotour yang dijalankan oleh perusahaan lokal, Kanoco Tour, dengan tarif Rp 250 ribu per orang, dengan kuota minimal lima orang. Pulau Curiak yang telah menjadi destinasi wisata global tak diragukan lagi menjadi kebanggaan warga setempat, termasuk Bupati Anjir Muara Jaya Hidayatullah. Ia menyampaikan terima kasih kepada SBI yang telah mengembangkan potensi Pulau Curiak dan mengatakan ingin bekerja sama untuk membangun kota wisata untuk melengkapi keberadaannya saat ini.

Artikel ini dilansir dari kabarapik.com